Minggu, 28 April 2019

CATUR PURUSHA




Secara etimologi Catur Purusa Artha berasal dari bahasa Sanskerta dari akar kata Catur, Purusa dan Artha. Catur diartikan empat, Purusa berarti manusia dan Artha artinya tujuan. Sehingga Catur Purusa Artha dapat diartikan empat tujuan hidup manusia (Surpha, 2005: 5).


Dalam kitab Nitisastra, Bhagavan Sukra mengemukakan bahwa semua perbuatan manusia itu pada hakekatnya didasarkan pada usaha untuk mencapai empat hakekat hidup yang terpenting yaitu Dharma, Artha, Kama dan Moksa. Tidak ada satu pun perbuatan manusia yang tidak di dorong oleh keinginannnya untuk mencapai keempat tujuan itu, sehingga dapat dikatakan bahwa keempat hal inilah yang menjadi hakekat tujuan hidup manusia menurut ajaran agama Hindu.

Bagian-Bagian Catur Purusa Artha

Keempat tujuan hidup yakni Dharma, Artha, Kama, dan Moksa, akan dijelaskan sebagai berikut:

1. Dharma

Dharma adalah kebajikan , kebenaran, peraturan-peraturan yang mendukung orang untuk mendapatka kebahagiaan (Sura, 1985:92). Dalam Sarasamuscaya sloka 14, dijelaskan bahwa Dharma adalah jalan untuk pergi ke sorga “Dharma eva plavo nanyah svargam samabhivanchatam, Sa ca nawupwanijastatam jaladheh paramicchatah” yang artinya” Yang disebut Dharma, adalah merupakan jalan utuk pergi ke sorga, sebagai halnya perahu yang merupakan alat bagi saudagar untuk mengarungi lautan”.


2. Artha
Artha yaitu benda-benda duniawi yang dapat memuaskan kama. Artha merupakan obyek dari kama sehingga seseorang nikmat merasakan hidup ini (Sura, 1985:92). Made Ngurah (1999: 72) mengatakan kata artha dapat berarti harta atau kekayaan. Ajaran agama Hindu mengajurkan agar semua orang memiliki artha, sebab artha merupakan sarana untuk mencapai tujuan tertinggi (moksa). 

Artha dalam catur Purusa Artha digunakan sebagai sedekah. Terdapat tiga penggunaan artha dalam ajaran Catur Purusa Arta yakni artha digunakan untuk memenuhi dharma, artha digunakan untuk memenuhi kama dan artha untuk mendapatkan harta kembali (wirasusaha).

3. Kama

Sura (1985:91) menjelaskan bahwa kama yaitu keinginan, nafsu yang mendorong seseorang untuk berbuat sesuatu, yang mendorong orang bergairah dan bergirang dalam hidup ini. Made Ngurah (1999: 74) menjelaskan bahwa kama adalah nafsu atau keinginan yang dapat memberikan kepuasan atau kesejahteraan hidup. Kepuasan atau kenikmatan  tersebut memang merupakan salah satu tujuan atau kebutuhan manusia.

4. Moksa

Secara etimologi moksa berasal dari bahasa sanskerta dari akar kata “Muc” yang artinya “Membebaskan” atau “Melepaskan” (Mudana dan Ngurah Dwaja, 2015: 2). Berdasarkan pengertian diatas dapat kita simpulkan bahwa Moksa adalah terbebasnya jiwa (atman) dari ikatan duniawi atau samsara (kelahiran kembali). Ngurah Nala dan Sudharta (2009: 41) menjelaskan apabila Atman itu sudah bersih, oleh karena Ia mentaati petujuk-petunjuk Sang Hyang Widhi (Tuhan), maka Atman itu tidak terikat dengan hukum karma, disebut Niskama Karma, dan Tidak lagi mengalami Punarbhawa, tidak mengalami Samsara. Keadaan inilah yang disebut Moksa atau kelepasan (pembebasan).




TRI PRAMANA




Secara etimologi Tri Pramana berasal dari kata “Tri” dan “Pramana”. Tri artinya Tiga dan Pramana artinya Jalan, atau Cara. Jadi “Tri Pramana” adalah tiga jalan (cara) untuk mengetahui kebenaran dalam hal ini Tuhan Yang Maha Esa (Ida Sang Hyang Widhi). Dengan megetahui tentang keberadaan Ida Sang Hyang Widhi, maka sraddha atau keyakinan seseorang semakin kuat.

Kemudian ada juga yang mengatakan bahwa Tri Pramana adalah tiga kekuatan hidup untuk mengetahui dan meyakini sesuatu. Tri Pramana dibagi menjadi dua penjelasan yakni Tri Pramana dalam Bhuwana alit sebagai kekuatan mahluk hidup yaitu manacikapura disebutkan, tiga kekuatan mahluk hidup tersebut meliputi; (1) Bayu; kekuatan nafas, (2) Sabda:  kekuatan suara, dan (3) Idep; kekuatan pikiran. Ketiga tri Pramana tersebut dimiliki oleh manusia sebagai makhluk yang paling sempurna untuk mengetahui hakekat kebenaran sesuatu, baik nyata, maupun abstrak  yang dalam widhi tatwa disebutkan Tri Pramana; Praktyaksa Pramana, Anumana Pramana, dan Agama Pramana (Sabda Pramana). Ketiganya akan dijelaskan sebagai berikut:


1. Praktyaksa Pramana

Praktyaksa Pramana adalah  cara mengetahui sesuatu (kebenaran) dengan cara melihat langsung melalui Panca Indra. Contohnya misalnya melihat matahari langsung, melihat bulan purnama pada malam hari, melihat matahari terbit, mencium harumnya bunga secara langsung, mengearkan suara music, merasakan sejuknya angin pada sore hari, dan lainnya.
2. Anumana Pramana

Anumana Pramana adalah cara mengetahui sesuatu (kebenaran) dengan cara melihat gejala-gejala atau tanda-tanda, berdasarkan perhitungan analisa yang logis dan sebagainya. Contohnya misalnya ada asap berarti ada api, ada angin manakala melihat dedaunan pada pepohonan yang bergerak-gerak, dedaunan basah di hutan berarti terjadi hujan, ada jejak telapak kaki manusia berarti ada orang, dan lain sebagainya.

3. Agama Pramana

Agama Pramana adalah cara mengetahui sesuatu (kebenaran) dengan cara mempercayai sumber-sumber yang pantas dipercaya, misalnya kitab suci weda, orang suci seperti pendeta dan pinandita, para rsi, orang tua kita dan sebagainya.

Ketiga cara di atas (Tri Pramana) digunakan oleh umat Hindu untuk mengetahui kebenaran. Sesuatu dikatakan benar jika masuk akal dan bisa dipertanggung jawabkan. Pada umumnya ketiganya dalam agama Hindu dipercaya dapat digunakan untuk mengetahui Tuhan (Ida Sanghyang Widhi Wasa).


CATUR ASRAMA




Catur Asrama terdiri dari dua kata yaitu Catur yang berarti empat (4) dan Asrama yang berarti Jenjang, atau Tahapan. Jadi Catur Asrama dapat diartikan sebagai empat tahapan yang harus dilalui umat hindu untuk mencapai Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma.

Catur Asrama juga dapat diartikan sebagai 4 (empat) tahapan hidup manusia yang harus di capai. Adapun ke empat bagian-bagian dari catur asrama adalah sebagai berikut:

  1. BRAHMACARI ASRAMA
  2. GRHASTA ASRAMA
  3. WANAPRASTA ASRAMA
  4. SANIASA / BHIKSUKA/ SANYASIN
A. BRAHMACARI ASRAMA

Brahmacari Asrama Adalah tingkat masa menuntut ilmu/masa mencari ilmu. Masa Brahmacari diawali dengan upacara Upanayana dan diakhiri dengan pengakuan dan pemberian Samawartana (Ijazah).
B. GRHASTA ASRAMA
Grhasta Asrama Adalah tingkat kehidupan berumahtangga. Masa Grehasta Asrama ini adalah merupakan tingkatan kedua setelah Brahmacari Asrama. Dalam memasuki masa Grehasta diawali dengan suatu upacara yang disebut Wiwaha Samskara (Perkawinan) yang bermakna sebagai pengesahan secara agama dalam rangka kehidupan berumahtangga (melanjutkan keturunan, melaksanakan yadnya dan kehidupan sosial lainnya).

C. WANAPRASTA ASRAMA
Wanaprastha Asrama Merupakan tingkat kehidupan ketiga. Dimana berkewajiban untuk menjauhkan diri dari nafsu keduniawian. Pada masa ini hidupnya diabdikan kepada pengamalan ajaran Dharma. Dalam masa ini kewajiban kepada keluarga sudah berkurang, melainkan ia mencari dan mendalami arti hidup yang sebenarnya, aspirasi untuk memperoleh kelepasan/moksa dipraktekkannya dalam kehidupan sehari- hari.

D. SANYASIN ASRAMA
Sanyasin Asrama (bhiksuka) Merupakan tingkat terakhir dari catur asrama, di mana pengaruh dunia sama sekali lepas. Mengabdikan diri pada nilai-nilai dari keutamaan Dharma dan hakekat hidup yang benar. Pada tingkatan ini, ini banyak dilakukan kunjungan (Dharma yatra, Tirtha yatra) ke tempat suci, di mana seluruh sisa hidupnya hanya diserahkan kepada Sang Pencipta untuk mencapai Moksa.

Dari uraian di atas jika dapat dipraktekkan dalam kehidupan keseharian, maka seseorang akan dapat mencapai kehidupan bahagia di dunia dan akhiran. Yang penting dijalankan dengan landasan dharma.

Sabtu, 27 April 2019

                                                                   AVATARA 




1. Matsya Awatara
Di dalam Purana dikisahkan bahwa alam semesta ini pernah dilanda banjir yang sangat besar dan dahsyat akibat adanya hujan selama tiga bulan terus menerus siang dan malam. Umat manusia dan bumi beserta isinya nyaris tenggelam dan hanyut oleh dahsyatnya banjir yang melanda. Melihat hal seperti itu, lalu Brahman, Sang Hyang Widhi menjelma atau lahir ke dunia dengan mengambil bentuk sebagai seekor ikan bertanduk yang sangat besar. Ikan yang bernama Matsya Avatara inilah yang menyelamatkan umat manusia dan dunia beserta isinya sehingga terhindar dari kehancuran.

2.  Kurma Awatara
Kisah Kurma Avatara ini terdapat di dalam kitab Padma Purana.Dikisahkan para dewata dan para raksasa berebut untuk mendapatkan tirta Amerta Sanjiwani yang berguna untuk menjadikan hidup tidak bisa mati kalau sempat meminum tirta tersebut. Akibat lautan diaduk sedemikian rupa, maka terjadilah gempa bumi yang sangat dahsyat yang nyaris menghancurkan bumi beserta isinya. Melihat keadaan yang berbahaya seperti itu, lalu Brahman, Sang Hyang Widhi menjelma turun ke bumi dengan mengambil bentuk sebagai seekor kura-kura raksasa yang bernama Kurma Avatara. Kurma Avatara inilah yang dengan kekuatan penuh memikul bumi ketika mau hancur akibat dari para Dewata dan raksasa mengaduk lautan untuk mendapatkan Tirta Amerta Sanjiwani.

3.  Varaha Awatara
Dikisahkan dalam kitab Visnu Purana, pada suatu masa berkuasalah raksasa yang sangat sakti bernama Hiraniaksa. Raksasa Raja ini tidak bisa mati oleh segala macam senjata, sangat sakti tetapi sangat kejam terhadap umat manusia. Lalu Brahman, Sang Hyang Widhi kembali menjelma menjadi seerkor babi hutan yang sangat besar bernama Varaha. Pada saat raksasa Hiraniaka bermaksud untuk menghancurkan umat manusia, dunia dan berserta isinya, datanglah Varaha Avatara yang menyelamatkan sehingga terhindar dari kehancuran.

4. Wamana Awatara
Vamana Avatara adalah penjelmaan Brahman dalam bentuk sebagai orang cebol atau pendek. Dikisahkan raksasa yang berkuasa pada saat itu sangat kejam memperlakukan para resi dan para pertapa di hutan. Semua fasilitas untuk melakukan persembahyangan dirusak oleh raksasa ini. Maka datanglah orang cebol ini menghadap raja raksasa yang bernama Bali, lalu menantang untuk adu kesaktian. Si Cebol meminta sebidang tanah seukuran tiga kali pajang dan lebar tubuhnya. Raja Bali menyetujui, lalu dengan kesaktiannya yang luar biasa, Vamana yang cebol ini dengan mudah menjatuhkan raja Bali, dengan jatuhnya raja yang lalim ini, umat manusia dan alam semesta beserta isinya dapat diselamatkan dari kehancuran akibat kejahatan yang dilakukan oleh raja raksasa yang bernama Bali.

5. Narasima Awatara
Narasima adalah manusia singa, dikatakan demikian karena memiliki tubuh berbentuk manusia dan berkepala berbentuk singa yang sangat sakti. Di dalam Purana disebutkan seorang raja bernama Hirania Kasipu telah selesai menjalankan tapa yang sangat keras. Akibat dari tapanya yang disiplin dan keras, Raja Hirania Kasipu mendapatkan kekuatan yang tidak bisa mati oleh binatang, manusia ataupun oleh kekuatan alam, seperti gempa bumi, dan angin topan. Hirania Kasipu juga tidak bisa mati pada siang hari dan tidak juga bisa mati pada malam hari. Karena merasa diri sakti dan tidak bisa mati, maka muncullah sikapnya yang sombong dan bertindak sewenang-wenang terhadap rakyatnya.

Dengan demikian, umat manusia terancam oleh kejahatan yang dilakukan Raja Hirania Kasipu, karena membahayakan keselamatan dunia beserta isinya, lalu Brahman turun ke bumi dan menjelma menjadi manusia harimau yang bernama Narasima Murti. Dalam perang tanding melawan Narasima Murti, Raja Hiraia Kasipu yang lalim dan kejam akhirnya tewas mengenaskan dicakar oleh Narasima Murti pada saat sandi kala atau waktu menjelang malam di bawah cucuran atap rumah. Setelah tewasnya Raja Hirania Kasipu, maka umat manusia, dunia berserta isinya menjadi selamat terbebas dari keangkaramurkaan.

6.  Parasurama Awatara
Parasurama Avatara dikisahkan di dalam Brahma Purana. Dalam kisah ini disebutkan bahwa Parasurama dilahirkan dalam keluarga Brahmana Yamadagini. Setelah dewasa dan selesai berguru, Parasurama mendapatkan anugerah senjata berupa kapak yang sangat sakti. Dikisahkan pada saat itu para ksatria banyak membuat onar. Mereka suka mengonsumsi berbagai macam minuman keras, tidak menghormati wanita dan selalu mengganggu ketentraman masyarakat. Hukum di masyarakat tersebut tidak berjalan dengan baik. Orang jahat dibebaskan atau dihukum ringan, orang yang baik malahan dimasukkan ke penjara. Melihat keadaan yang demikian, Brahman turun kembali ke bumi dalam bentuk manusia bersenjata kapak. Dengan kebijaksanaan dan kesaktiannya, Parasurama dapat kembali menegakkan hukum dan keadilan di masyarakat. Akhirnya umat manusia, dunia beserta isinya dapat diselamatkan dan terhindar dari kepunahan.

7.  Rama Awatara
Dalam epos Ramayana, disebutkan Raja Ayodya bernama Dasarata mempunyai putra bernama Rama Deva dari istrinya yang bernama Devi Ekosalya. Pangeran Laksamana lahir dari istri yang bernama Devi Sumitra. Pangeran Barata lahir dari istri yang bernama Devi Kakeyi. Rama Deva diyakini sebagai penjelmaan Brahman, karena mempunyai kemampuan luar biasa di atas kemampuan manusia pada umumnya. Rama Dewa berhasil membunuh Raja Alengka bernama Rahwana yang bergelar Dasamuka. Rahwana adalah putra dari Bhagawan Waisrawa dengan Diah Sukesi putri Raja Somali. Rahwana mencuri Devi Sinta istri Rama Deva, maka terjadilah perang besar yang bernama Perang Ramayana. Dalam perang besar tersebut, Raja Alengka bernama Rahwana itu tewas. Dengan tewasnya Raja Rahwana, maka kehancuran dunia beserta isinya dapat dihindarkan.

8. Krisna Awatara
Di dalam Kitab Mahabarata, dikisahkan ada seorang raja yang sangat kejam bernama Kansa. Ia di ramal oleh seorang Brahmana bahwa dirinya akan terbunuh oleh anak laki-laki dari pasangan Vasudewa dengan Devi Devaki yang tidak lain adalah adik kandungnya sendiri, maka Vasudeva dan Devi Devaki oleh Raja Kansa dimasukkan ke dalam penjara sampai akhirnya melahirkan seorang anak bernama Krisna. Hujan turun lebat ketika Krisna kecil keluar dari penjara. Ia harus melewati Sungai Gangga yang sedang dilanda banjir. Melihat hal itu seekor ular kobra besar memberikan perlindungan kepadanya menjelang lewatnya Vasudewa. Dikisahkan Krisna sudah dewasa, dalam perang tanding melawan Raja Kansa, Krisna dapat mengalahkan Raja Kansa dengan mudah. Akhirnya dunia dapat diselamatkan oleh Avatara Krisna dari kelaliman Raja Kansa.

9. Buddha Awatara
Sang Buddha sebelumnya bernama Pangeran Sidharta Gautama.Beliau lahir dalam keluarga suku Sakya yang sangat teguh menjalankan tradisi leluhur. Mereka lahir di dalam keluarga Hindu. Ayahnya adalah seorang raja di Kerajaan Kapilawastu benama Raja Sodhodana. Sementara Ibundanya adalah Dewi Maha Maya. Ketika baru lahir, Sidharta kecil sudah langsung dapat berjalan tujuh langkah dan secara ajaib dari tanah bekas injakan kakinya muncul tumbuh bunga teratai putih yang mengeluarkan bau harum semerbak. Akibat dari ramalan seorang Brahmana sakti yang meramalkan Sidharta kelak akan menjadi Buddha, maka oleh Raja Sodhodana, pangeran kecil ini dibuatkan tiga buah istana yang mewah agar ia hidup bergelimangan kemewahan dan kelak hidupnya tidak menjadi Buddha. 

Namun, akibat melihat tiga peristiwa sederhana yang agung— melihat orang sakit, melihat orang tua yang jalannya tertatih-tatih, dan melihat orang meninggal, lalu Sidharta Gautama meninggalkan istana, istri, anak, keluarga dan rakyatnya pergi ke hutan Uruwela untuk mencari penawar duka atau penderitaan. Penderitaan yang dimaksud adalah usia tua, kesakitan, dan kematian. Setelah mencapai penerangan sempurna, Sidharta Gautama bergelar Buddha, yang mengajarkan ajarannya ke seluruh dunia untuk menunjukkan jalan yang benar agar umat manusia mencapai kebahagiaan dan terlepas dari penderitaan.

10. Kalki Awatara 

Kalki Avatara adalah avatara yang belum lahir dan akan lahir ketika dunia sudah mencapai puncak usia yang dikenal dengan istilah akhir zaman. Kalki Avatara dengan menunggang kuda putih, bersenjatakan pedang dan pecut sakti berkeliling dunia menegakkan kebenaran sehingga dunia terhindar dari kehancuran. Kalki Avatara diyakini dapat mengembalikan keadaan zaman dari kacau balau menjadi zaman keemasan yang masyarakatnya hidup makmur, adil, dan sejahtera.

Senin, 21 Januari 2019

Panca Yadnya Agama Hindu

                                                            PANCA YADNYA


A. PENGERTIAN YADNYA

    Panca Yadnya terdiri dari dua kata yaitu "Panca" yang berarti lima dan "Yadnya" yang berarti persembahan atau korban suci. Kata "YADNYA" berasal dari bahasa Sansekerta yaitu "YAJ" yang berarti memuja atau memberi pengorbanan.


B. LATAR BELAKANG MUNCULNYA YADNYA

    Sebelum membahas dan menjelaskan bagian - bagian panca yadnya terlebih dahulu akan menjelelaskan latar belakang munculnya YADNYA. Pada setiap orang atau manusia yang lahir ke dunnia ini pasti membawa tiga hutang , dalam ajaran Agama Hindu tiga hutang itu di sebut dengan TRI RNA.  Tiga macam hutang yang dibawa sejak lahir adalah :

A. Dewa Rna yaitu hutang kepada Dewa atau Ida Shang Yhang Widhi karena telah memberikan kita hidup.

B.  Pitra Rna yaitu hutang kepada Leluhur maupun orang tua karena telah menghidupi kita , merawat dan mendidik.

C. Rsi Rna yaitu hutang kepadaResi pendahulu kita yang telah menerima wahyu Tuhan berupa Weda sehingga kita memahami ajaran agama maupun kepada para sulinggih yang telah menyucikan hidup kita.


C. BAGIAN PANCA YADNYA
   
     Setelah mengetahui latar belakang munculnya Yadnya berikut merupakan Bagian panca Yadnya :

A.  Dewa Yadnya yaitu persembahan atau korban suci yang di persembahan kepada Dewa atau Ida Shang Yhang Widhi , yadnya ini dapat dilakukan setiap hari maupun bersekala.

B.   Pitra Yadnya yaitu persembahan atau korban suci yang di persembahkan kepada leluhur kita.

C.  Rsi Yadnya yaitu persembahan atau korban suci yang di persembahkan kepada Rai maupun Guru yang telah memberikan penyucian.

D.  Manusa Yadnya yaitu persembahan atau korban suci untuk kesucian lahir batin manusia dan mencapai kesejahteraan manusia semasa hidupnya.  

E.  Bhuta Yadnya yaitu persembahan atau korban suci yang di persembahkan untuk para Bhuta atau Makhluk Bawah 


D. CONTOH PELAKSANAAN PANCA YADNYA

       Dalam pelaksanaan sebuah Yadnya tidak dapat dipisah-pisahkan. Artinya dalam melaksanakan satu Yadnya pasti yadnya yang lain dilaksanakan juga. Contohnya kita melaksanakan Dewa Yadnya seperti odalan di Pura.  Odalan di Pura termasuk Dewa Yadnya. Dalam rangkaian upacara odalan di Pura diisi juga dengan upacara mecaru. Mecaru adalah pelaksanaan Bhuta Yadnya. Jadi dalam Upacara Dewa Yadnya diisi juga dengan melaksanakan Bhuta Yadnya.  Demikian juga yadnya yang lainnya.
         

 1. Contoh-contoh pelaksanaan Dewa Yadnya dalam kehidupan sehari-hari, seperti:
           a.   Melakukan Tri Sandya tiga kali dalam sehari,
           b.   Selalu berdoa sebelum melakukan kegiatan
           c.   Memelihara kebersihan tempat suci


  2.  Contoh-contoh pelaksanaan Pitra Yadnya dalam kehidupan sehari-hari:
            
a.   Berpamitan kepada orangtua kita sebelum berangkat kemanapun
b.   Menghormati orangtua dan melaksanakan perintahnya
c.    Menuruti nasehat orangtua
           d.   Membantu dengan suka rela pekerjaan yang sedang dilakukan oleh orangtua


3.    Contoh-contoh pelaksanaan Rsi Yadnya dalam kehidupan sehari-hari, seperti:
a.   Rajin belajar
b.   Belajar yang tekun
c.    Menghormati Guru
d.    Menuruti peritah guru
           e.    Mentaati dan mengamalkan ajarannya

 4. Contoh-contoh pelaksanaan Manusa Yadnya dalam kehidupan sehari-hari, misalnya: 
           a. Tolong menolong antar sesama
           b.  Belas kasihan  terhadap orang yang menderita
           c.   Saling menghormati dan menghargai sesama
           d.  Rajin merawat diri

 5. Contoh-contoh pelaksanaan Bhuta Yadnya dalam kehidupan sehari-hari, seperti:
a.   Merawat dan memelihara tumbuh-tumbuhan dengan baik
b.   Merawat binatang peliharaan dengan baik
c.   Menjaga kebersihan lingkungan